Jumat, 15 Februari 2013

TIDAK SETIAP ORANG BISA DIJADIKAN TEMAN

Teman sangat besar pengaruhnya bagi agama seseorang. Kita tahu Abu Thalib. Bagaimana dia tidak mau menerima dakwah Rasululloh shall... dan akhirnya mati di atas kesyirikan disebabkan teman yang mendampinginya, yakni Abu Jahal. Abu Jahal terus-menerus memengaruhi Abu Thalib untuk tidak menerima dakwah Rasululloh shall...

Tidak semua orang bisa dijadikan shahabat atau teman akrab. Rasululloh shall.. bersabda:
“Seseorang ada di atas agama/perangai temannya, maka hendaklah seseorang meneliti siapa yang ia jadikan temannya” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah No. 127).

Dalam hadits yang lain Beliau bersabda:
“Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang mukmin dan janganlah memakan makananmu kecuali orang bertakwa” (HR. Abu Dawud, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ No. 7341).

Lalu beliau shall.. juga bersabda:
“Permisalan teman yang baik dan teman yang jelek seperti Penjual Misk dan Pandai Besi. Penjual Misk bisa jadi engkau diberi olehnya, membeli darinya atau minimal engkau mendapat bau wangi. Adapun pandai besi, bisa jadi membakar pakaianmu atau engkau mencium bau tak sedap darinya (HR. Al Bukhari No. 5534 dan Muslim No. 2628).

Lalu bagaimana caranya kita memilih teman?
Ada lima kriteria seseorang bisa dijadikan teman, menurut para ulama:

1. Berakal
Ini adalah modal utama dalam persahabatan setelah iman. Tidak ada kebaikan berteman dengan seseorang yang dungu, karena dia ingin berbuat baik kepadamu, namun hal tersebut justru mudharad bagimu. Yang dimaksud berakal disini adalah mampu memahami keadaan yang sebenarnya, baik memahaminya sendiri maupun memahami ketika diberi pengertian.

2. Berakhlak baik
Ternyata syarat berakal belum cukup. Betapa banyak orang berakal namun ketika marah atau dikuasai syahwat, dia akan mengikuti hawa nafsunya. Maka tidak ada kebaikan berteman dengan orang seperti ini. Lalu bagaimana kita mengetahui akhlak seseorang? Ada beberapa cara untuk mengetahui akhlak seseorang.
1) Pertama, dengan cara melihat siapa temannya
“Seseorang ada di atas agama/perangai temannya maka hendaknya seseorang meneliti siapa yang dia jadikan temannya” (HR. Ahmad, Abu Dawud).
Ibnu Mas’ud berkata: “Nilailah (kenalilah) manusia dengan menilai (mengenal) teman-temannya”. Dalam pepatah Arab dinyatakan, “Katakan kepadaku siapa temanmu, maka aku akan sampaikan siapa sebenarnya kamu”. Sebagian ahli hikmah menyatakan “Kenali temanmu dengan mengenali temannya sebelummu”.

2) Kedua, dengan cara melihat dia saat safar (bepergian) dengannya
Perjalanan jauh disebut safar (yang dalam bahasa Arab bermakna ‘menyingkap’). Dalam safar akan terlihat banyak akhlak dan tabi’atnya. Oleh karena itu orang Arab menyatakan, “Safar adalah mizan (timbangan) bagi suatu kaum.

3. Bukan orang fasik
Seorang yang fasik tidak takut kepada Alloh sub.. Seseorang yang tidak takut kepada Alloh sub.. maka kita tidak merasa aman dari pengkhianatannya dan tidak bisa dipercaya.

4. Bukan ahlul bid’ah
Kenapa kita diharuskan menghindarkan teman yang ahli bid’ah? Karena dikhawatirkan dia akan menebarkan kebid’ahannya kepada orang lain. Begitu kerasnya seruan untuk menghindarkan berteman dengan ahli bid’ah, Fudhail bin Iyadh rahima… berkata, “Tidak mungkin seorang ahlus sunnah (artinya orang yang selalu memegang dan memelihara sunnah-sunnah rasululloh) berteman (condong) kepada ahlul bid’ah, kecuali adanya kemunafikan (dalam hatinya)”. Beliau melanjutkan, “Hati-hatilah, janganlah engkau duduk-duduk bersama orang-orang yang akan merusak hatimu. Jangan pula engkau duduk bersama pengikut hawa nafsu, karena aku khawatir murka Alloh sub… menimpamu”.

5. Bukan orang yang tamak dan rakus terhadap dunia
Janganlah orang yang tamak dan rakus terhadap dunia kita jadikan teman. Jika orang-orang demikian kita jadikan teman maka lambat laun kita akan terbawa dan hanyut dalam sifat tamak dan rakus mereka yang pada akhirnya melalaikan kita dari mengingat Alloh sub… utamanya dalam kepatuhan dan ketundukan kita kepada-Nya.

Wallohu a’lam bish showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar