TIDAK SETIAP ORANG BISA DIJADIKAN TEMAN
Teman sangat besar pengaruhnya bagi agama seseorang. Kita tahu Abu
Thalib. Bagaimana dia tidak mau menerima dakwah Rasululloh shall... dan
akhirnya mati di atas kesyirikan disebabkan teman yang mendampinginya,
yakni Abu Jahal. Abu Jahal terus-menerus memengaruhi Abu Thalib untuk
tidak menerima dakwah Rasululloh shall...
Tidak semua orang bisa dijadikan shahabat atau teman akrab. Rasululloh shall.. bersabda:
“Seseorang ada di atas agama/perangai temannya, maka hendaklah
seseorang meneliti siapa yang ia jadikan temannya” (HR. Ahmad, Abu
Dawud, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah No. 127).
Dalam hadits yang lain Beliau bersabda:
“Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang mukmin dan janganlah
memakan makananmu kecuali orang bertakwa” (HR. Abu Dawud, dihasankan
Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ No. 7341).
Lalu beliau shall.. juga bersabda:
“Permisalan teman yang baik dan teman yang jelek seperti Penjual Misk
dan Pandai Besi. Penjual Misk bisa jadi engkau diberi olehnya, membeli
darinya atau minimal engkau mendapat bau wangi. Adapun pandai besi, bisa
jadi membakar pakaianmu atau engkau mencium bau tak sedap darinya (HR.
Al Bukhari No. 5534 dan Muslim No. 2628).
Lalu bagaimana caranya kita memilih teman?
Ada lima kriteria seseorang bisa dijadikan teman, menurut para ulama:
1. Berakal
Ini adalah modal utama dalam persahabatan setelah iman. Tidak ada
kebaikan berteman dengan seseorang yang dungu, karena dia ingin berbuat
baik kepadamu, namun hal tersebut justru mudharad bagimu. Yang dimaksud
berakal disini adalah mampu memahami keadaan yang sebenarnya, baik
memahaminya sendiri maupun memahami ketika diberi pengertian.
2. Berakhlak baik
Ternyata syarat berakal belum cukup. Betapa banyak orang berakal namun
ketika marah atau dikuasai syahwat, dia akan mengikuti hawa nafsunya.
Maka tidak ada kebaikan berteman dengan orang seperti ini. Lalu
bagaimana kita mengetahui akhlak seseorang? Ada beberapa cara untuk
mengetahui akhlak seseorang.
1) Pertama, dengan cara melihat siapa temannya
“Seseorang ada di atas agama/perangai temannya maka hendaknya seseorang
meneliti siapa yang dia jadikan temannya” (HR. Ahmad, Abu Dawud).
Ibnu Mas’ud berkata: “Nilailah (kenalilah) manusia dengan menilai
(mengenal) teman-temannya”. Dalam pepatah Arab dinyatakan, “Katakan
kepadaku siapa temanmu, maka aku akan sampaikan siapa sebenarnya kamu”.
Sebagian ahli hikmah menyatakan “Kenali temanmu dengan mengenali
temannya sebelummu”.
2) Kedua, dengan cara melihat dia saat safar (bepergian) dengannya
Perjalanan jauh disebut safar (yang dalam bahasa Arab bermakna
‘menyingkap’). Dalam safar akan terlihat banyak akhlak dan tabi’atnya.
Oleh karena itu orang Arab menyatakan, “Safar adalah mizan (timbangan)
bagi suatu kaum.
3. Bukan orang fasik
Seorang yang fasik
tidak takut kepada Alloh sub.. Seseorang yang tidak takut kepada Alloh
sub.. maka kita tidak merasa aman dari pengkhianatannya dan tidak bisa
dipercaya.
4. Bukan ahlul bid’ah
Kenapa kita diharuskan
menghindarkan teman yang ahli bid’ah? Karena dikhawatirkan dia akan
menebarkan kebid’ahannya kepada orang lain. Begitu kerasnya seruan untuk
menghindarkan berteman dengan ahli bid’ah, Fudhail bin Iyadh rahima…
berkata, “Tidak mungkin seorang ahlus sunnah (artinya orang yang selalu
memegang dan memelihara sunnah-sunnah rasululloh) berteman (condong)
kepada ahlul bid’ah, kecuali adanya kemunafikan (dalam hatinya)”. Beliau
melanjutkan, “Hati-hatilah, janganlah engkau duduk-duduk bersama
orang-orang yang akan merusak hatimu. Jangan pula engkau duduk bersama
pengikut hawa nafsu, karena aku khawatir murka Alloh sub… menimpamu”.
5. Bukan orang yang tamak dan rakus terhadap dunia
Janganlah orang yang tamak dan rakus terhadap dunia kita jadikan teman.
Jika orang-orang demikian kita jadikan teman maka lambat laun kita akan
terbawa dan hanyut dalam sifat tamak dan rakus mereka yang pada
akhirnya melalaikan kita dari mengingat Alloh sub… utamanya dalam
kepatuhan dan ketundukan kita kepada-Nya.
Wallohu a’lam bish showab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar